Business Intelligence

February 20, 2008 at 7:55 am (campus)

bi_wheel.jpg


Dalam dunia bisnis yang berubah dengan sangat cepat sekarang ini, perusahaan sangat membutuhkan alat untuk memberikan servis yang efisien pada consumer dalam bisnis mereka. Untuk dapat tetap kompetitif, perusahaan harus menemui bahkan melebihi ekspektasi dari consumer. Perusahaan bersandar lebih pada sistem business intelligence untuk tetap berada di depan kecenderungan dan kejadian di masa datang.

Business intelligence itu sendiri adalah sebuah istilah manajemen bisnis yang berkenaan dengan aplikasi dan teknologi yang digunakan untuk mengambil, menyediakan dan menganalisa data dan informasi mengenai operasi perusahaan. Sistem business intelligence dapat membantu perusahaan untuk memiliki pengetahuan yang lebih komprehensif mengenai factor-faktor yangt mempengaruhi bisnis mereka, misalnya penjualan, produksi, operasi internal dan juga dalam pemgambilan keputusan.

Aplikasi dan teknologi business intelligence dapat memungkinkan organisasi untuk membuat keputusan yang lebih masuk akal, business intelligence juga dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan yaitu untuk mengetahui posisi perusahaan dalam persaingan dengan competitor. Selain itu, business intelligence juga dapat membantu perusahaan menganalisa perubahan trend pada pasar, perubahan pada perilaku pelanggan, pilihan pelanggan, kemampuan perusahaan dan kondisi pasar. Business intelligence dapat digunakan juga untuk membantu analis dan manajer menentukan penyelesaian yang paling berpengaruh terhadap tren di pasar.

Agar sistem teknologi business intelligence dapat berjalan dengan efektif, perusahaan harus memiliki sistem computer yang aman. Selain itu, sistem business intelligence membutuhkan kapasitas data yang cukup. Penjaja business intelligence biasanya mengembangkan sistem business intelligence berbeda-beda untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dari sector yang berbeda-beda.

Dalam masa yang akan datang, informasi bisnis akan menjadi lebih demokratis dimana pengguna dari luar organisasi dapat melihat informasi pada segmen mereka untuk melihat bagaiamana perusahaan tersebut bekerja. Syarat kemampuan business intelligence juga akan meningkat sejalan dengan ekspektasi konsumen yang juga meningkat. Hal ini menuntu perusahaan untuk meningkat pada langkah yang sama atau lebih cepat untuk dapat tetap kompetitif. Business intelligence sering kali menggunakan indicator performa perusahaan (KPI) untuk menaksir keadaaan bisnis saat ini dan menentukan langkah yang akan ditempu.

Pada artikel yang didapat, dibahas penggunaan business intelligence dalam bank central. Eksekutif dan analis dari bank central mengikuti nadi keuangan negara dengan secara dekat memantau parameter kunci pada lingkungan ekonomi dan perbankan. Berdasarkan perspektif strategis, informasi dianalisa untuk mengerti perilaku jangka panjang dan hubungan antara berbagai variable ekonomi dari bunga bank. Pada tingkat operasional, indikasi perbankan, keuangan dan makroekonomi diikuti untuk menyediakan panduan untuk keputusan sehari-hari dalam kerangka kebijaksanaan pemerintah.

Bank central mengumpulkan dan menganalisa laporan dan data perbankan, ekonomi, keuangan, moneter dan aspek-aspek neraca keuangan pada dasar yang tetap dengan sumber informasi langsung ataupun melalui agen pemerintah. Bank central memainkan peran penting dalam menjaga integritas sistem dari sistem perbankan dan meluruskan pertumbuhannya pada kebijaksanaan moneter keseluruhan pada Negara. Oleh karena itu, maka bank central membutuhkan sistem pengawasan yang kuat dan efisien untuk memastikan keputusan mereka sesuai dengan ketentuan. Dalam lingkungan yang berubah, pengukuran yang tepat pada performa dan pengawasan yang efektif dari institusi ini adalah tugas yang sulit bagi pengawas dan pegaturnya. Faktor pembatas dari kebanyakan sistem adalah kesulitan untuk melihat data historis.

Bagaimanapun, tren teknologi sekarang, khususnya business intelligence dapat membantu bank central mengahadapi tantangan tersebut. Teknologi business intelligence membantu banker dengan kemampuan untuk melihat peringatan sejak dini, jadi dapat mencegah kegagalan sejak sebelumnya. Idealnya, solusi business intelligence seharusnya,

  • Dapat menyiapkan ramalan persediaan menggunakan alat estimasi yang sempurna
  •  Menyediakan akses historis seperti halnya akses pada data saat sekarang
  •  Menyediakan analisis on-the-fly untuk mengidentifikasi kebutuhan bisnis.
  •  Memiliki kemampuan yang multi dimensi dengan fasilitas untuk analisis dengan fungsi-fungsinya yang saling berhubungan.
  •  Mencapai efisiensi yang lebih tinggi dalam penyebaran dan pelaporan
  •  Memenuhi kebutuhan laporan untuk IMF dan pemerintah

Dalam penelitian ekonomis, data yang sangat banyak biasanya diatur sekitar kerangka analisis yang mengklasifikasikan data dan membolehkan pengertian variable tidak hanya pada tingkatan terendah tetapi juga pada kesatuan yang lebih tinggi. Data yang diapat dari berbagai sumber haruslah diatur sedemikian rupa dengan menggunakan konsep kumpulan lanjutan seperti likuiditas yang bebas, analisis dapat mengerti apa yang sedang terjadi pada dunia ekonomi dan mengetahui langkah apa yang akan dibuat untuk menyesuaikannya. Pusat informasi yang diatur dengan baik dapat menyimpan informasi pada bentuk ini untuk kemudahan dan kecepatan mengakses informasi.

Sebuah dasar business intelligence yang terintegrasi dapat menolong bank central secara konstan mengevaluasi indicator performa dari sistem perbankan, dan mengawasi kesehatan sistem perbankan, posisi likuiditas dan ketaatan pada norma-norma kebijaksanaan. Solusi business intelligence dapat juga membantu analis untuk mempelajari korelasi antara pertumbuhan dari berbagai sector ekonomi dengan pertumbuhan pendapatan dari bank dalam sector ini. Analisis kunci ini dan peringatan awal dapat membantu pengatur untuk melihat bank-bank yang berbuat salah tepat pada waktunya dan memastikan kebutuhan yang saling berhubungan.

Permalink 1 Comment

Customer Relationship Management

February 20, 2008 at 6:30 am (campus)

crmpres41.gif

CRM (Customer Relationship Management) memperhatikan pendekatan perusahaan yang bertujuan untuk mengerti dan mempengaruhi perilaku customer melalui komunikasi yang berarti dalam rangka untuk meningkatkan akusisi konsumen, mempertahankan konsumen, kesetiaan konsument, dan profitabilitas yang didapatkan dari konsumen. Implementasi dari pendekatan CRM dalam perusahaan melibatkan kreasi dari system informasi disebut system CRM.

Elemen inti dari system CRM adalah database yag berisi data tentang karakteristik konsumen, data tentang kontak perusahaan-pelanggan, data tentang cara pelanggan merespon terhadap tawaran perusahaan sebelumnya, dan data tentang sejarah pembelian produk perusahaan oleh pelanggan

Kebutuhan akan CRM telah meningkat sejak era meledaknya dot-com. Tetapi proyek CRM masih saja memiliki reputasi yang mahal dan juga kompleks penggunaannya. Sekarang, solusi CRM tidak hanya mudah didapat tetapi juga cepat untuk dikembangkan tanpa perlu konsultan yang membuthkan biaya tinggi.

Sejalan dengan meluasnya lahan untuk pasar online, maka tantangan untuk para pengusaha bisnis online akan semakin besar begitu juga dengan kebutuhan akan kemampuan CRM yang baik. Hal itu disebabakan oleh, penjual online berkembang lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan para pembeli online. Selain itu kompetisi juga bertambah keras, dan perusahaan yang memiliki sistem CRM yang baik cenderung memiliki pendapatan yang lebih banyak dan penjualan yang tinggi.

Pebisnis online menghadapi tantangan yang lebih besar dari perkiraan mereka. Bisnis online secara tradisional dioptimasikan untuk mendapatkan pembeli baru, meningkatkan jumlah transaksi dan memaksimalkan servis sendiri. Sementara itu, membuat hubungan dengan konsumen termasuk melawan arus dari proses pemasaran dan pembelian secara online yang terjadi sekarang ini.

Membuat perusahaan yang berfokus pada hubungan dengan konsumen dimulai dengan mengerti tantangan untuk merangsang dan menjaga hubungan tersebut. Tantangan tersebut berasal dari  proses bisnis yang tidak dirancang untuk kenyamanan konsumen, sistem IT yang tidak dirancang untuk interaksi dengan konsumen, manajemen dan strategi perusahaan yang tidak berfokus pada kepuasan konsumen, pekerja yang tidak terlatih, tidak termotivasi atau tidak bekerja sebagai mana mestinya, saluran interaksi konsumen yang tidak terkoordinasi satu sama lainnya, anggaran yang terbatas untuk memprakarsai CRM atau sistem IT yang telah kadaluarsa dan tidak fleksibel.

Apabila pemilik suatu bisnis online berkomitmen untuk beralih ke hubungan yang baik dengan konsumen, maka langkah selanjutnya adalah membuat organisasi yang berpusat pada konsumen. Empat langkah yang digunakan dalam menyediakan dasar yang kuat untuk memprakarsainya adalah sebagai berikut,

Langkah 1. Fokus kepada konsumen

Konsumen adalah asset yang paling berharga dan penting dalam bisnis online. Setiap bisnis bergantung kepada konsumennya, tetapi tidak semua pemilik bisnis tersebut yang member cukup perhatian kepada konsumennya. Untuk memaksimalkan pengembalian investasi, semua aspek dari asset ini harus diobservasi secara keseluruhan.

Strategi yang dapat diterapkan antara lain, mengidentifikasi dan focus pada konsumen yang paling bernilai, mengerti kesetiaan dari konsumen tertentu, mengerti apa yang konsumen ekspektasikan kepada perusahaan dan mengetahui pengalaman konsumen terhadap competitor.

CRM yang baik adalah dengan membentuk kesetiaan dan integritas terhadap merk kita. Manajemen konsumen yang efektif memiliki kepribadian dan kecepatan. Sentuhan secara individu merupakan cara yang terbaik. Contoh dari servis CRM yang otomatis adalah email notifikasi yang berisi pemastian pembelian, penerimaan pesanan atau informasi pengiriman.

Banyak perusahaan yang berfokus pada menggaet konsumen baru. Padahal hal tersebut belum tentu mendatangkan kesuksesan, khususnya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan konsumen cukup besar. Kesuksesan jangka panjang bergantung pada promosi online untuk menawarkan kepada konsumen lama agar tetap setia dengan cara-cara tertentu. Penjual butuh untuk berkomunikasi dengan konsumen yang ada lewat layanan email, tawaran khusus dan metode lainnya agar menjaga hubungan dengan konsumen.

Langkah 2. Branding

Konsumen mencari perusahaan yang mereka dapat identifikasi, membuat mereka merasa baik, mereka kenali dan dapat membuat mereka bangga untuk merekomendasikan kepada teman mereka. Sebuah brand perusahaan dapat menolong untuk menciptakan identitas yang dapat dengan mudah dikenalik konsumen. Sebuah brand haruslah secara konsisten memperkuat hubungan dengan konsumen. Konsumen mengekspektasikan untuk mendapatkan sentuhan yang baik dengan suatu brand. Poin tersebut termasuk website, tempat penjualan online, penawaran lewat email, informasi dan aktivitas sosial.

Langkah 3. Kompetensi

Pelaksanaan dilakukan dari atas ke bawah dan membutuhkan komitmen yang baik sejalan dengan keterlibatan untuk membuat sebuah organisasi dengan focus pada konsumen dan brand. Semua pekerja haruslah diatur dengan strategi perusahaan untuk memaksimalkan kapasitas dan keuntungan untuk membuat hubungan dengan konsumen.

Langkah 4. Teknologi

Tujuan terbaik untuk suatu komitmen tidak akan menghasilkan hasil tanpa adanya dasar informasi dan teknologi yang cukup untuk mengatur informasi konsumen, interaksi dan nilai. Perusahaan harus memberikan wewenang kepada konsumen untuk melihat keseluruhan organisasi secara bebas.  Pembiayaan untuk peningkatan teknologi merupakan suatu persoalan, karena biasanya biaya untuk IT sangat ditekan. Tetapi teknologi tetap dibutuhkan ketika permintaan dari konsumen berkembang.

CRM itu sendiri bukanlah konsep baru, tetapi untuk kebanyakan bisnis kecil dan menengah, hal ini sangat diharapkan untuk dikurangi biayanya. Dengan mengikuti keempat langkah diatas, para pebisinis online dapat mengerti bagaimana melayani konsumen dengan lebih baik dan juga lebih sukses pada bisnis e-commerce yang sekarang ini berkembang secara cepat.

Permalink Leave a Comment

Don’t Hope, Friend… Decide!

February 20, 2008 at 4:11 am (life)

– By Michael Hargrove

While waiting to pick up a friend at the airport in Portland, Oregon, I had one of those life changing experiences that you hear other people talk about. You know, the kind that sneaks up on you unexpectedly? Well, this one occurred a mere two feet away from me! Straining to locate my friend among the passengers deplaning through the jetway, I noticed a man coming toward me carrying two light bags. He stopped right next to me to greet his family.

First, he motioned to his youngest son (maybe six years old) as he laid down his bags. They gave each other a long, and movingly loving hug. As they separated enough to look in each other’s face, I heard the father say, “It’s so good to see you, son. I missed you so much!” His son smiled somewhat shyly, diverted his eyes, and replied softly, “Me too, Dad!”

Then the man stood up, gazed in the eyes of his oldest son (maybe 9) and while cupping his son’s face in his hands he said, “You’re already quite the young man. I love you very much Zach!” They too hugged a most loving, tender hug. His son said nothing. No reply was necessary.

While this was happening, a baby girl (perhaps one or one and a half) was squirming excitedly in her mother’s arms, never once taking her little eyes off the wonderful sight of her returning father. The man said, “Hi babygirl!” as he gently took the child from her mother. He quickly kissed her face all over and then held her close to his chest while rocking her from side to side. The little girl instantly relaxed and simply laid her head on his shoulder and remained motionless in total pure contentment.

After several moments, he handed his daughter to his oldest son and declared, “I’ve saved the best for last!” and proceeded to give his wife the longest, most passionate kiss I ever remember seeing. He gazed into her eyes for several seconds and then quietly said, “I love you so much!”. They stared into each other’s eyes, beaming big smiles at one another, while holding both hands. For an instant, they reminded me of newlyweds but I knew by the age of their kids that they couldn’t be. I puzzled about it for a moment, then realized how totally engrossed I was in the wonderful display of unconditional love not more than an arm’s length away from me. I suddenly felt uncomfortable, as if I were invading something sacred, but was amazed to hear my own voice nervously ask, “Wow! How long have you two been married?”

“Been together fourteen years total, married twelve of those.” he replied without breaking his gaze from his lovely wife’s face.

“Well then, how long have you been away?” I asked. The man finally looked at me, still beaming his joyous smile and told me, “Two whole days!”

Two days?! I was stunned! I was certain by the intensity of the greeting I just witnessed that he’d been gone for at least several weeks, if not months, and I know my expression betrayed me. So, I said almost offhandedly, hoping to end my intrusion with some semblance of grace (and to get back to searching for my friend), “I hope my marriage is still that passionate after twelve years!”

The man suddenly stopped smiling. He looked me straight in the eye, and with an intensity that burned right into my soul, he told me something that left me a different person. He told me, “Don’t hope friend…decide.” Then he flashed me his wonderful smile again, shook my hand and said, “God bless!”. With that, he and his family turned and energetically strode away together.

I was still watching that special man and his exceptional family walk just out of sight when my friend came up to me and asked, “What’cha looking at?” Without hesitating, and with a curious sense of certainty, I replied, “My future!”

Permalink Leave a Comment